0
Home  ›  Beranda  ›  Cerpen

Cerpen | Sarung Dibawah Bendera | 22/10/2025


Cerpen : Sarung di Bawah Bendera

Tagar.co - Fajar baru saja menyingsing ketika suara lantang dari masjid pondok menggema, memanggil para santri untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Di antara mereka, tampak Rafi, seorang santri asal desa kecil di Jawa Tengah, melangkah cepat sambil membenarkan sarung kotaknya yang mulai longgar. Matanya masih sedikit mengantuk, tapi hatinya hangat — sebab hari ini bukan hari biasa.

Usai shalat Subuh, seluruh santri berkumpul di lapangan pondok. Di tengah udara yang masih sejuk, bendera merah putih telah berkibar, menanti untuk dikibarkan kembali dalam upacara istimewa. Rafi berdiri di barisan depan, mengenakan peci hitam dan baju koko putih. Meski sederhana, ada rasa bangga yang besar dalam dadanya.

“Santri bukan hanya yang pandai mengaji,” kata Kyai Fathur, pimpinan pondok, dalam sambutannya. “Santri adalah penjaga nilai, pembela bangsa, dan pejuang tanpa pamrih. Dahulu, santri ikut berjuang melawan penjajah dengan doa, dengan ilmu, dengan keberanian.”

Kata-kata itu menggema dalam hati Rafi. Ia teringat kisah kakeknya — seorang pejuang yang dulu berjuang di medan perang sambil tetap membawa mushaf kecil di saku bajunya. Kakeknya sering berkata, “Jihad itu tidak selalu dengan pedang, tapi dengan ilmu dan ketulusan.”

Setelah upacara, pondok menggelar lomba pidato dan hafalan. Rafi memberanikan diri ikut. Tema yang ia pilih: Santri Mandiri, Indonesia Berdikari.

Dengan suara bergetar tapi penuh keyakinan, ia berkata,

"Menjadi santri berarti siap berjuang, bukan hanya di pesantren, tapi di mana pun kita berada. Kita belajar jujur, disiplin, dan cinta tanah air. Karena cinta pada ilmu adalah bentuk cinta pada Indonesia.”

Sorak tepuk tangan santri lain menggema. Wajah Kyai Fathur tampak tersenyum bangga.

Menjelang sore, setelah semua kegiatan selesai, Rafi duduk di bawah pohon mangga dekat asrama. Ia memandangi langit senja — warna oranye keemasan yang indah. Di dalam hatinya, ia berjanji: suatu hari nanti, ia ingin menjadi guru yang mengajar di desanya sendiri. Mengajarkan Al-Qur’an dan juga semangat kebangsaan, seperti yang diajarkan pondok ini padanya.

“Menjadi santri bukan sekadar status,” gumamnya pelan. “Tapi jalan hidup.”

Dan ketika adzan Magrib berkumandang, Rafi tersenyum. Sarungnya berkibar ditiup angin, seolah bendera kecil yang menandai perjuangan tanpa henti — perjuangan seorang Santri Indonesia.

Santri adalah cermin ketulusan, disiplin, dan cinta tanah air. Mereka mungkin tidak memegang senjata, tetapi mereka berjuang dengan ilmu, doa, dan akhlak mulia demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa.(#)

---
Penyunting Aniwati
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS